Ada
seorang anak kecil yang begitu cantik. Pada suatu hari ayah sang anak
memberikan putrinya sebuah mutiara. Sang anak amat sangat senang dan begitu
mengasihi mutiara pemberian ayahnya. Ayahnya pun senang melihat putri kecilnya
begitu mengasihi dan menghargai pemberian ayahnya. Namun sang ayah merasa
bersalah karena mutiara tersebut adalah mutiara palsu. Suatu saat ayahnya
berniat menukarkan mutiara palsu tersebut dengan mutiara asli sebagai
penghargaan karena anak tersebut telah menjaga sesuatu yang palsu dengan baik. Namun
sang anak sama sekali tidak ingin mutiara tersebut diambil oleh ayahnya. Anak
tersebut menangis dengan hebat karena tidak rela benda kesayangannya diambil
kembali oleh ayahnya.
Terkadang
kita pun seperti anak kecil tersebut. Ketika Bapa telah mempercayai kita sebuah
pekara yang kecil dan kita telah menyelesaikan dengan baik. IA pasti amat
bangga dengan apa yang telah kita buat sehingga IA mempercayai kita perkara
yang lebih besar lagi sebagai suatu penghargaan bahwa kita sudah naik level.
Namun seringkali kita berpikir bahwa TUHAN itu kejam. Banyak kecurigaan yang
terjadi. Entah kita berpikir bahwa penderitaan kita tidak selesai-selesai atau
bahkan kita berfikir TUHAN sudah tidak mempercayai kita lagi dengan merenggut
semua yang kita miliki.
Kita
seringkali terlalu mendramatisir keadaan yang telah terjadi. Sehingga kita lupa
bahwa hamba Tuhan Abraham pun pernah dicobai oleh TUHAN. Isterinya Sarai
dinyatakan mandul (Kejadian 11:30). Setelah itu TUHAN menubuatkan Sara akan
memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Ishak (Kejadian 18:1-15). Ketika ishak
sudah cukup besar TUHAN menguji
kepercayaan Abraham. IA menyuruh Abraham menyerahkan Ishak anak tunggalnya itu
kepada TUHAN (Kejadian 22:1-19).
Bisakah
kita memiliki respon hati seperti Abraham? Yang tidak segan-segan menyerahkan
anaknya yang tunggal kepada TUHAN. Hamba yang rela melakukan apa pun yang
diperintahkan TUANnya. Karena ia percaya bahwa rancangan TUHAN adalah rancangan
yang indah bukan rancangan yang mencelakakan (Yeremia 29:11).
Marilah
kita sebagai anak & hambanya kita memiliki respon hati seperti Abraham.
Meskipun hal itu sulit tapi apabila kita mau dibentuk percayalah kita akan mampu
melaluinya.

0 komentar:
Posting Komentar